Langkah CPR Selamatkan Nyawa saat Henti Jantung Mendadak

Pernah dengar istilah CPR?. Cardiopulmonary Resusication (CPR) atau resusitasi jantung paru adalah pertolongan pertama yang cepat pada orang yang mengalami henti kerja jantung atau bernapas. CPR dapat meningkatkan peluang bertahan hidup dan  pemulihan.
CPR

Berdasarkan data kemenkes jumlah orang yang mengalami henti jantung mendadak, penyakit jantung koroner dan stroke meningkat dari masa ke masa. Kondisi yang cukup memprihatinkan ini, Philips selaku produser alat kesehatan Automated External Defibrillators (AED) dalam rangka memperingati Hari Jantung Sedunia mengadakan pelatihan Resusitasi Jantung Paru (CPR) dan AED dibantu oleh tim Medic One. Pelatihan ini bertujuan untuk menyebarkan kesadaran tentang pentingnya CPR kepada masyarakat luas.

Dalam sesi pelatihan ini peserta dilatih untuk menggunakan AED. Diharapkan dengan pengetahuan yang tepat siapapun bisa menjadi first aider. Dengan menjadi first aider kita dapat  meningkatkan kesempatan hidup korban henti jantung mendadak.

Seperti yang diungkapkan dokter speseialis jantung, Jetty R H Sedyawan di Jakarta bahwa “Periode emas atau 3 menit pertama setelah terjadinya henti jantung mendadak jika diberikan CPR, ada kemungkinan besar korban dapat bertahan hidup tanpa ada kerusakan pada otak.”

“Orang-orang yang berada di lokasi terdekat dengan korban memiliki dampak yang besar pada kesempatan hidup korban.  Apakah korban dapat bertahan hidup atau tidak pada saat terserang SCA,” ujar Presiden Philips Indonesia Suryo Suwignjo.  Mengetahui bagaimana melakukan CPR dan menggunakan defibrillator dapat menyelamatkan nyawa.

Sebelum memberikan pertolongan terhadap korban, tugas first aider adalah mampu membedakan kondisi gawat atau darurat. Membahayakan nyawa dengan cepat atau tidak. Sehingga dapat diambil tindakan penyelamatan dengan tepat.

Langkah-langkah dalam memberikan pertolongan pertama / CPR:

  1. Cek Bahaya
    Saat menemukan korban tergeletak di tengah jalan, cek keadaan sekitar. Cek apakah ada yang dapat memberikan pertolongan,  orang yang mengenal korban atau pihak keluarga. Cek lingkungan sekitar korban aman atau tidak. Pastikan lingkungan sekitar aman untuk Anda, korban maupun orang lain. Jangan mendekati korban jika terlihat adanya bahaya, segera bergerak ke tempat yang aman dan hubungi nomor darurat. Jangan sampai kita malah menjadi korban.
  2. Cek respon
    Jika kondisi telah aman, langkah selanjutnya adalah cek respon dari korban. Sebutkan nama Anda di dekat korban, jika tak ada respon maka tepuk pundak korban dengan kencang. Jika korban masih belum memberikan respon, cek nafas korban dalam hitungan 10 detik dengan jeda waktu yang tepat. Jika korban tidak ada napas, segera minta tolong orang sekitar. Perintahkan 1 orang untuk menelepon nomor darurat (119 atau 112) terdekat seperti ambulans, gawat darurat ataupun polisi, 1 orang mencari kotak P3K dan 1 orang mencari Automated External Defibrillator (AED) jika ada.
  3. Kompresi Dada atau lakukan teknik CPR
    Sambil menunggu petugas medis dan alat AED datang, sebagai first aider bersertifikat yang telah mengikut pelatihan CPR berikan CPR kepada korban.

    Pertama, berlutut di samping korban sejajar dengan area dada, buka baju korban untuk melakukan kompresi dada.  Kompresi dilakukan di bagian tengah dada.

    Cara menentukan bagian tengah dada yaitu dengan menggunakan jari (2 jari kanan dan 2 jari kiri. Diukur dari leher bagian bawah yang lunak hingga ke bagian dada yang lunak. Ambil titik tengah bagian bawah.

    Posisi tubuh saat memberikan tekanan yaitu lengan tegak lurus. Lakukan kompresi sebanyak 30 tekanan dengan total 5 siklus (150 tekanan). Dengan kedalaman tekanan 5-6 cm atau 1/2 tebal dada untuk orang dewasa. Dengan kecepatan 100- 120 kompresi per menit.

  4. Bukan jalan napas
    Setelah memberikan kompresi, buka jalan napas. Periksa mulut korban apakah ada sisa makanan. Jika ada sisa makanan dalam mulut, keluarkan. Lalu tekan dahi dan angkat dagu korban untuk membuka jalur saluran nafas.

  5. Berikan bantuan napas
    Tekan dahi, angkat dagu lalu tutup hidung korban, buka mulut berikan tiupan sebanyak 2 kali. Setiap tiupan dilakukan selama 1 detik dan terlihat dada terangkat.

    Lalu lanjutkan siklus 30 kali kompresi dada diselingi 2 tiupan sebanyak 5 siklus. Sambil perhatikan dada korban sebagai pengecekan nafas.Ketika bantuan alat AED datang, tetap lakukan CPR  sementara alat AED dipasangkan ke tubuh korban. Alat AED harus terpasang dengan tepat agar aliran listrik yang disalurkan oleh alat ini bisa sampai langsung ke jantung korban.

  6. Pasang AED
    AED adalah alat yang dapat menganalisa irama jantung yang tidak teratur.   Alat ini aman dan mudah digunakan.
    Cara menggunakan AED yaitu letakkan alat AED di samping korban, nyalakan AED dengan menekan tombol ON, pasang pads AED sesuai petunjuk. Jika EAD pads sudah terpasang,  jauhkan kontak fisik antara korban dan penolong agar alat AED dapat melakukan analisa irama jantung. Dengarkan instruksi AED dengan baik.Lakukan CPR hingga korban bernapas ataupun petugas medis datang. Jika korban sudah sadar sebelum petugas medis datang, maka hal yang harus dilakukan adalah dengan membalikkan tubuh korban ke arah kanan penolong. Lalu, tanyakan pada korban mengenai identitas, kondisi korban dan jelaskan tindakan awal apa saja yang telah dilakukan sebelum tim medis tiba.

    Hentikan CPR jika korban meringis atau batuk, tim medis telah datang. Oya jangan lupa first aider menggunakan sarung tangan dan masker ya.

    Semoga bermanfaat ya. Jangan ragu untuk ikut pelatihan CPR walaupun bukan tim medis dengan keterampilan CPR yang telah bersertifikat kita dapat menyelamatkan nyawa orang.

Advertisements

Dari Generasi ke Generasi Orang Semakin Cerdas

Gen autisme membuat manusia lebih cerdas. Sebuah penelitian menemukan varian gen tertentu yang berfungsi meningkatkan kinerja dan kekuatan otak membuat manusia lebih pintar namun mereka mengalami gangguan spektrum autisme (ASD). Hasil penelitian dari Yale University ini dipublikasikan dalam jurnal PLoS Genetics.

Peneliti melakukan analisa terhadap orang yang mempunyai otak yang luar biasa serta gangguan spektrum autisme (ASD). Menurut Teori Evolusi Charles Darwin bahwa varian gen yang membawa efek negatif terhadap reproduksi manusia dieliminasi melalui seleksi alam.

Peneliti berasumsi hal ini berpotensi menjelaskan mengapa autisme terus ada dari generasi ke generasi. “Kami menemukan sinyal positif yang kuat, bersama dengan gangguan spektrum autisme, berkaitan dengan peningkatan intelektual,” kata peneliti Renato Polimanti, dalam siaran pers Yale. “Bahwa selama evolusi varian ini yang memiliki efek positif pada fungsi kognitif dengan risiko gangguan spektrum autisme meningkat,” kata pendamping penulis dalam penelitian Joel Gelernter.

Seperti diketahui bahwa orang-orang dengan autisme memiliki kemampuan yang cukup baik dalam bidang matematika, ilmu pengetahuan, musik ataupun seni. Umumnya, orang dengan ASD mempunyai kemampuan bahasa, kemampuan sosial dan pengelolaan emosi yang kurang.

MPASI Kacang dan Telur Efektif Turunkan Risiko Alergi Makanan

Bayi konsumsi kacang pada usia 4-11 bulan dan konsumsi telur pada usia 4-6 bulan dapat menurunkan risiko alergi terhadap makanan ini di kemudian  hari.

Hal ini terungkap dalam studi yang diterbitkan JAMA. Penelitian ini menganalisa efek paparan awal makanan yang berpotensi alergi. Alergi makanan terjadi ketika sistem kekebalan tubuh merespon adanya protein berbahaya dalam makanan tertentu. Diawali dengan gejala seperti gatal-gatal, eksim, mulut gatal, mual dan muntah, bahkan pada kasus yang berat bisa membahayakan nyawa.

Biasanya alergi terjadi pada masa kanak-kanak. Alergi makanan yang kerap muncul yaitu alergi protein susu sapi, gandum, ikan laut, kerang, kacang tanah.

Para ahli menyarankan orang tua untuk memberikan semua jenis makanan kepada anak, namun tidak disarankan untuk mengenalkan makanan yang berpotensi menimbulkan alergi di awal perkenalan makanan padat.

Namun hasil penelitian yang dilakukan oleh  Boyle dan tim  dari  Imperial College London,  Inggris ini menunjukkan bahwa memperkenalkan telur dalam pola makan bayi berusia 4-6 bulan dapat mengurangi risiko alergi telur sebesar 40 persen, sementara memperkenalkan kacang pada usia 4-11 bulan dapat menurunkan risiko alergi kacang sebesar 70 persen.

Untuk konsumsi ikan berusia 6-12 bulan dapat menurunkan risiko alergi rhinitis, dan menurunkan risiko sensitisasi alergi. Sedangkan gluten, usia  tidak mempengaruhi risiko intoleransi gluten atau penyakit celiac.

“Kami terkejut melihat tidak ada efek untuk penyakit celiac, yang merupakan jenis yang berbeda dari alergi terhadap telur dan alergi kacang,” ujar Boyle dilansir dari laman Medical News Today.

“Ini menunjukkan bahwa pengenalan awal makanan alergi tidak mengurangi risiko terhadap semua jenis alergi makanan.” “Setiap bayi mempunyai respon imun yang berbeda terutama terhadap kacang dan telur reaksi dapat terjadi pada kulit atau pernafasan,” ujar Boyle.

Efek Layar Pendar dan Kedipan Mata pada Perkembangan Anak

Perangkat digital layar pendar banyak memberikan efek kepada anak. Tak hanya layar televisi tapi juga gadget. Untuk kesehatan mata anak, orang tua harus waspada jika anak jarang berkedip.

“Semakin sering anak-anak menatap perangkat digital layar pendar, anak cenderung jarang berkedip. Hal ini dapat menyebabkan mata kering,” ujar Amber Gaume Giannoni, spesialis optometri lokal dengan College of Optometry di University of Houston. Kedipan mata dapat merangsang kelenjar melembabkan mata.

Dilansir dari laman Boldsky, Giannoni menyarankan orang tua membatasi waktu anak menonton televisi dan memperhatikan gejala seperti berkedip, menggosok mata.

Dia merekomendasikan metode 20-20-20 untuk mengurangi ketegangan mata digital – istirahat 20 detik untuk setiap 20 menit menatap perangkat digital, dengan jarak pandang 20 kaki atau sekitar 6 meter jarak menonton televisi.

Tak hanya mempengaruhi kesehatan mata, menonton televisi juga dapat mempengaruhi kinerja belajar anak, gangguan perilaku, meningkatkan obesitas aktivitas fisik anak juga berkurang. Padahal aktivitas ini penting bagi perkembangan mental dan fisik anak. Terlebih bagi balita menonton televisi dapat mempengaruhi perkembangan kognitif dan emosional anak.

Mengingat semakin krusialnya efek televisi ini sebaiknya anak usia sekolah menonton televisi tidak lebih dari 2 jam per hari dan jangan ijinkan anak memiliki televisi di kamar tidur mereka. Cobalah gunakan sebagian besar waktu luang anak untuk melakukan berbagai kegiatan seperti bermain, bersepeda, membaca, bermain di alam terbuka, belajar tentang musik atau olahraga.

Dilansir dari laman Mediasmarts dalam Scientific American penelitian berjudul “Television Addiction Is No Mere Metaphor” meneliti alasan anak-anak dan orang dewasa seringkali kesulitan mematikan TV. Dari hasil riset ditemukan bahwa mereka merasa santai saat menonton TV, bahkan umumnya mereka menonton lebih lama dari yang direncanakan. Namun perasaani tu akan hilang dengan cepat saat TV dimatikan.

Menurut sebuah penelitian pada tahun 2010, 4 dari 5 iklan makanan dapat mempengaruhi perilaku konsumen. Membuat pola konsumsi makanan tak sehat meningkat. Hal ini memicu obesitas pada anak. Tak heran jika industri makanan cepat saji Amerika Serikat rela menghabiskan lebih dari 4 miliar dolar untuk belanja iklan di televisi pada tahun 2009.

Bentuk dan Tekstur Botol Susu yang Mirip Payudara

Seringkali ibu bekerja mengalami dilema dalam memberikan Air Susu Ibu (ASI) kepada buah hati. Terutama saat harus kembali bekerja. Maka banyak ibu bekerja yang ingin tetap memberikan ASI dengan cara memompanya dan pemberian lewat botol. Walau terlihat sederhana, hal ini tidaklah mudah. Bayi seringkali bingung puting. Pemilihan botol susu yang cocok untuk si kecil juga menentukan keberhasilan program ini.

Ibu bekerja jangan asal memberikan susu lewat botol. Ibu harus memperhatikan bahwa pemberian ASI lewat botol minimal jika bayi sudah berusia 3 minggu. Dan sebelum ibu kembali bekerja, si kecil harus mulai belajar diberikan ASI lewat botol. Hal ini bertujuan untuk membiasakan si kecil agar terbiasa kelak ketika ditinggal bekerja. Nah, pada kondisi ini tak sedikit bayi yang mengalami bingung puting.  Bahkan banyak bayi yang memilih untuk mengkonsumsi ASI lewat botol dibandingkan menyusui langsung ke payudara ibu.

Tak perlu khawatir, yakinkan hati bahwa ibu bisa. Tekad yang kuat dan pemilihan  botol susu yang sesuai dengan bentuk yang paling mirip dengan payudara ibu dapat menunjang pemberian ASI secara optimal.

Di pasaran ada banyak pilihan botol susu dengan dot yang beraneka ragam. Pertimbangkan untuk memilih botol susu yang bentuknya mirip payudara seperti dari Tommee Tippee Closer to Nature Bottles atau Philips Avent Natural Bottle.

SCF653-23 -ulir

Kelebihan dari botol Avent Natural 2.0 tak hanya dari segi bentuk yang mirip payudara, dari segi tekstur, pergerakan dot ketika diisap bayi, aliran air susu yang keluar, sehingga perasaan mirip menyusu langsung dari payudara. Botol ini memiliki desain ulir spiral yang memudahkan pergerakan lidah si kecil, bentuk ujung dot yang menyerupai payudara dan materi dot dengan bahan silikon lembut membuat dot menjadi lebih awet digunakan serta memiliki tekstur yang halus seperti kulit.

Asam Folat Juga Meningkatkan Perkembangan Emosional Anak

Botol Natural 2.0 juga memiliki sistem anti kolik. Sistem untuk mengalirkan udara ke dalam botol bukan ke perut si kecil sehingga bayi dapat terhindar perut kembung. Selain itu botol susu Philips Avent memiliki leher botol yang lebar sehingga memudahkan perlekatan secara alami dan bentuk botol yang ergonomis yang membuat botol mudah digenggam dan nyaman digunakan dari segala arah.

Nutrisi Periode Emas Tentukan Kualitas Kesehatan Masa Depan

Pemenuhan kebutuhan nutrisi periode emas anak menentukan kualitas kesehatan dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Berikan buah hati kita asupan nutrisi sesuai dengan masa perkembangannya.

Ayahbunda, Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan utama bayi sebelum berusia 6 bulan. Nutrisi yang dikandung dalam ASI dapat memenuhi kebutuhan bayi sebelum berusia 6 bulan. Selain terpenuhi asupan nutrisi bayi, manfaat ASI diantaranya dapat meningkatkan kekebalan tubuh si kecil, meningkatkan kemampuan kognitif anak, mengembangkan emosi dan meningkatan hubungan ibu dan anak.

Tak heran jika pemerintah ikut mendorong para ibu untuk memberikan ASI Eksklusif. Pemerintah gencar mengingatkan orang tua terutama ibu untuk memberikan ASI Ekslusif untuk buah hatinya melalui tayangan layanan publik.

Buat ibu bekerja, rutinitas kerja  bukanlah alasan untuk tidak memberikan ASI selama minimal 6 bulan kepada bayi. Kini banyak tersedia produk yang dapat membantu ibu agar tetap memberikan ASI untuk si kecil. Salah satunya Philips AVENT Comfort Electric Breast Pump, alat pompa ASI dengan bantalan khusus yang dapat membantu ibu, khususnya para ibu yang bekerja untuk menghemat tenaga dan waktu saat memompa ASI di kantor atau saat berjauhan dari anak.

Selain itu ada juga AVENT Fast Bottle Warmer yang berfungsi untuk menghangatkan susu secara merata hanya dalam waktu 3 menit. Untuk memastikan bahwa botol susu aman dan steril ada Philips AVENT 3-in-1 Electric Steam Sterilizer. Ini merupakan alat untuk mensterilkan 5-6 botol susu sekaligus, membunuh 99,9 persen kuman berbahaya sesuai dengan keterangan tertulis dari Philips Indonesia.

Nah, baru setelah bayi menginjak usia 6 bulan, ibu dapat memberikan makanan pendamping ASI atau yang dikenal dengan istilah MPASI. Bayi membutuhkan nutrisi lain selain dari ASI.

Setelah usia 6 bulan nutrisi ASI hanya memenuhi sekitar 60-70 persen kebutuhan bayi. Di usia 6 bulan ini juga bayi sudah siap menerima makanan pendamping ASI atau makanan lainnya. Dalam masa pemberian MPASI, orang tua harus mulai memperkenalkan anak aneka macam makanan padat. Tentunya dengan tekstur yang bertahap ya.

“Kualitas kesehatan manusia jangka pendek dan jangka panjang akan ditentukan oleh asupan nutrisi selama periode emas, 270 hari pralahir yaitu masa janin dan 720 hari pasca lahir (masa bayi dan di bawah usia 2 tahun), “ ujar dokter spesialis anak sub-spesialisasi nutrisi dan penyakit metabolik Damayanti R Sjarif  dalam acara talk show bertema “Solusi untuk Menjawab Kebutuhan Nutrisi Anak.” Acara ini bertujuan memberikan dukungan kepada para orangtua untuk memahami nutrisi apa yang dibutuhkan anak dalam masa tumbuh kembang atau periode emas.

Makanan pendamping ASI ini menentukan pertumbuhan dan perkembangan buah hati kita. Bila makanan yang diberikan tidak sesuai maka pertumbuhan si kecil bisa terhambat. Menurut Damayanti, orang tua jangan sampai mengabaikan masa krusial anak dengan memberikan nutrisi yang benar sesuai kebutuhan anak.

Dalam pemberian MPASI orang tua juga harus memperhatikan asupan energi, protein, lemak serta vitamin dan mineral, yang dibutuhkan oleh anak untuk tumbuh-kembang terutama otak di usia ini adalah zat gizi makro (karbohidrat,protein, lemak) dan mikro (vitamin dan mineral) yang lengkap, cukup dan seimbang. “Prinsip dari MPASI adalah mengenalkan makanan keluarga dengan tekstur yang disesuaikan kemampuan oromotornya. Jadi perkenalkan makanan Indonesia yang sehat sesuai dengan ketersediaan bahan makanan lokal,” ujar Damayanti.

Untuk membantu orang tua memberikan asupan nutrisi MPASI terdapat produk yang dapat mempermudah menyiapkannya. Diantaranya, Philips AVENT 4-in-1 Healthy Baby Food Maker,  alat yang dapat menggabungkan fungsi kukus, blender, defrost dan reheat di dalam satu produk.

Hal ini memudahkan para ibu untuk menyiapkan makanan pendamping ASI. Bahan-bahan makanan bayi yang segar dapat dikukus dengan tingkat kematangan yang merata tanpa harus dididihkan terlebih dahulu. Setelah selesai, angkat dan putar posisi wadah 180 derajat dari atas ke bawah untuk melumatkan bahan-bahan makanan yang dikukus agar menjadi lembut dan mudah dikonsumsi bayi. Philips AVENT 4-in-1 Healthy Baby Food Maker juga dapat digunakan untuk memasak makanan dewasa seperti membuat makanan yang berbentuk pure, bubur dan saus.

Nah, tidak ada alasan rutinitas kerja menghambat orang tua memberikan kebutuhan asupan nutrisi anak dengan optimal bukan?.

Kunci Latihan Yoga yang Aman

Yoga, merupakan kegiatan yang baik untuk relaksasi dan olah tubuh. Namun yoga juga mempunyai risiko terutama mereka yang mengalami nyeri otot. Rutin melakukan yoga juga dapat memperburuk luka. Nah, simak uraian tentang risiko dan kunci latihan yoga yang aman.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Bodywork and Movement Therapies menemukan bahwa yoga dapat menyebabkan nyeri muskuloskeletal dan memperburuk luka yang ada.

“Studi tersebut menemukan bahwa yoga menyebabkan rasa nyeri ekstremitas atas pada bahu, siku, pergelangan tangan, tangan. Hal ini disebabkan pose Downward Dog, gerakan yang memberikan beban pada tungkai atas,” ujar Evangelos Pappas, seorang profesor Fisioterapi muskuloskeletal di The University of Sydney di Australia.

Pernyataan ini bukanlah hal yang gegabah. Dilansir dari laman Healthline berdasarkan penelitian dengan mengamati 354 orang yang rutin mengikuti yoga di 2 studio yoga New York, Amerika Serikat. Sekitar 95 persen peserta adalah wanita, rata-rata berusia 45 tahun.

Peneliti melakukan analisa dampak yoga terhadap otot, tulang, dan nyeri sendi. Hasilnya, hampir 87 persen peserta mengalami rasa nyeri dalam setahun, dan lebih dari 10 persen mengatakan bahwa yoga menyebabkan nyeri di tangan, pergelangan tangan, bahu, atau siku mereka.

”Terdapat hubungan sebab akibat yang kompleks antara nyeri muskuloskeletal dan latihan yoga,” ujar Pappas.

Staffan Elgelid, seorang terapis yoga yang juga profesor di terapi fisik di Nazareth College di Rochester, N.Y., mengatakan bahwa yoga mempunyai risiko yang sama dengan olahraga lainnya.

Sebenarnya yoga adalah kegiatan olah tubuh yang aman. Menurut Elgelid siapa saja yang ingin mengikuti yoga karena alasan medis atau muskuloskeletal harus dimulai dengan kelas privat agar bisa belajar secara benar bagaimana memodifikasi latihan untuk kebutuhan mereka sendiri.

Senada dengan pernyataan American Academy of Orthopedic Surgeons (AAOS).
“Yoga dianggap aman jika dikerjakan dengan aman,”ujar Jennifer M. Weiss, ahli bedah ortopedi dan juru bicara AAOS.

Nah, Weiss memberikan tip berlatih yoga dengan aman yaitu “Jika mempunyai keterbatasan, jangan dipaksakan. Komunikasi dengan terapis yoga untuk memberikan modifikasi. Jika merasa tidak nyaman, berhenti. Pose yoga apapun bisa diganti dengan posisi istirahat yang nyaman sehingga memungkinkan Anda untuk berhenti dan bernafas, “ujar Weiss.

Yang terpenting menurut Rachel Krentzman, seorang terapis fisik dan instruktur yoga di San Diego, adalah menemukan instruktur yoga yang baik. Krentzman sendiri telah melakukan terapi fisik yoga selama lebih dari 15 tahun.

“Siswa harus memastikan bahwa pose yoga yang dilakukan sesuai dengan kondisi fisik mereka,” ujar Krentzman.

Mayo Clinic, menambahkan bahwa gerakan yoga aman jika berada di bawah bimbingan seorang instruktur terlatih. Jika dipraktekkan dengan benar, gerakan yoga dapat mengurangi stres, meningkatkan kebugaran, bahkan dapat menangani kondisi kronis.

“Kuncinya adalah menemukan seorang guru yang memiliki pengetahuan kerja yang baik tentang tubuh, manajemen dan pencegahan cedera, serta keselarasan yang tepat dalam postur yoga,” ujar Krentzman.

Batasan Konsumsi Gula yang Aman

Konsumsi makanan dan minuman dengan tambahan gula dapat meningkatkan risiko  penyakit jantung, obesitas dan tekanan darah tinggi.

Ayah bunda, hati-hati dalam memberikan konsumsi makanan pada anak dan remaja. Kita dapat memakai patokan yang diberikan oleh The American Heart Association bahwa konsumsi gula pada anak dan remaja yaitu kurang dari 25 gram, atau 6 sendok teh, gula per hari. Hal ini hampir senada dengan anjuran yang diberikan oleh Kementrian Kesehatan Indonesia bahwa konsumsi gula yang dianjurkan yaitu  50 gram ( 4 sendok makan ) per hari.

Dalam jurnal Circulation, American Heart Association (AHA) merekomendasikan konsumsi gula anak usia 2 hingga 18 tahun kurang dari 6 sendok teh (25 gram) per hari, dan minuman manis tidak lebih dari delapan ons per minggu.

Umumnya penyebab utama obesitas yaitu minuman manis. Bayangkan, 20 ons minuman bersoda saja bisa mengandung lebih dari 16 sendok teh gula. Bahkan menurut AHA, anak di bawah usia 2 tahun tidak harus mengkonsumsi makanan atau minuman bergula.

Menurut Dr Frank Hu, Profesor Nutrisi dan Epidemiologi di Harvard Chan School of Public Health, “Rekomendasi AHA untuk membatasi asupan gula tambahan untuk anak-anak merupakan strategi penting untuk memperbaiki pola makan dan kesehatan anak secara keseluruhan. Sekolah, orang tua, profesional kesehatan, dan pembuat kebijakan harus bekerja sama membantu anak-anak meningkatkan kebiasaan makan dan minum sehat sejak usia dini. ”

Bahkan berdasarkan penelitian tersebut kadar gula berlebih pada anak-anak dapat menyebabkan gangguan kardiovaskular, tekanan darah, lipid, resistensi insulin dan diabetes, penyakit hati, dan obesitas.

Sebelumnya AHA merekomendasikan batas konsumsi gula 6-9 sendok teh per hari untuk wanita dan laki-laki. Nah,untuk mengatasi konsumsi gula berlebih sebaiknya banyak konsumsi buah-buahan dan sayuran, biji-bijian, protein, lemak, air putih serta makanan yang telah diproses tanpa gula dibandingkan minuman manis dan jus. Dalam hal ini Harvard menggunakan panduan Harvard Healthy Eating Plate dan Kid’s Healthy Eating Plate.