Umami, MSG dan Rasa Gurih …

Ilmu gizi berkembang dengan pesat. Dalam perkembangan ilmu gizi tidak lagi dikenal dengan istilah you are what you eat tapi you are is yourmother eat. Apa yang kita makan hari ini akan mempengaruhi gizi anak cucu kita di kemudian hari. Pernah dengar khan bahwa kini tubuh anak kian rentan penyakit akibat superbug, virus yang semakin kuat dan banyaknya makanan yang mengandung MSG. Sebenarnya apa sih MSG?

Monosodium glutamate kita kenal dengan singkatan MSG ini merupakan zat penambah rasa yang sering digunakan terutama untuk masak. Bahkan ada yang bilang jika tak pakai MSG rasanya kurang mengigit.

Sebenarnya MSG hanyalah molekul alami dari umami atau rasa gurih. Secara alami umami dapat kita peroleh dari berbagai macam bahan makanan seperti keju parmesan, tomat, kaldu daging, udang, bahkan air susu ibu (ASI) mengandung umami alami yang tinggi.

Hingga kini perdebatan tentang efek dari konsumsi MSG masih terus berkembang. Selain menimbulkan alergi, MSG ini juga mempunyai efek tak baik bagi kesehatan tubuh seperti sakit kepala terutama pada wanita. Umumnya wanita rentan MSG sehingga sering mengalami sakit kepala seperti migrain.

Dilansir dari laman Extra Crispy, menurut ahli makanan, Sarah Lohman, penulis buku Eight Flavors: The Untold Story of American Cuisine, alasan mengapa kita menganggap MSG berbahaya adalah hal yang rumit. Sebagian besar terkait dengan xenofobia di abad ke-20. Xenofobia adalah rasa takut atau ketidaksukaan pada sesuatu yang asing atau baru.

Perdebatan panjang umami sebagai salah satu bagian dari 5 rasa dasar (selain rasa manis, asin, asam, dan pahit ) terjawab dalam keputusan Simposium Internasional Umami pada tahun 1985 yang memasukkan rasa gurih alias umami ini sebagai 5 dasar rasa.

Sebenarnya kita telah mengenal rasa gurih ini sejak zaman Romawi Kuno, namun secara ilmiah teridentifikasi dari penelitian Kikunae Ikeda dari Tokyo Imperial University pada tahun 1908.

Hal ini semakin diperkuat oleh pernyataan Paul Breslin dari Monell University, salah satu ilmuwan pertama yang membuktikan keberadaan reseptor rasa umami dalam kaldu atau sup, ”Daging mentah yang dimasak lambat dengan jangka waktu yang lama itu umami.” Dilansir dari The Guardian.

Bahkan Professor Margot Gosney, dari the Academic and Research Committee of the British Geriatrics Society ingin menambah kadar umami dalam makanan rumah sakit agar lebih menarik bagi pasien terutama orang tua, tanpa harus mengkonsumsi garam dalam kadar yang lebih banyak.

Nah, apapun pandangan kita. Sebaiknya tetap dikonsumsi umami dalam porsi yang cukup jangan sampai berlebihan. Terlebih jika makanan itu sudah mengandung umami alami, tak perlulah ditambahkan MSG lagi. Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik bukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s