Pilihan Botol Susu yang Bentuk dan Teksturnya Mirip Payudara

Ibu bekerja seringkali mengalami dilema pemberian Air Susu Ibu (ASI) kepada buah hati saat harus kembali bekerja.  tak heran jika umumnya ibu bekerja memberikan ASI Perah  lewat botol. Walau tak mudah juga memilih botol susu yang cocok untuk si kecil.

Ibu bekerja harus memperhatikan bahwa pemberian ASI lewat botol minimal jika bayi sudah berusia 3 minggu. Dan sebelum ibu kembali bekerja, si kecil mulai belajar diberikan ASI lewat botol. Hal ini bertujuan untuk membiasakan si kecil agar terbiasa kelak ketika ditinggal bekerja. Dalam kondisi ini tak sedikit bayi yang mengalami bingung puting.  Bahkan banyak bayi yang memilih untuk mengkonsumsi ASI lewat botol dibandingkan menyusui langsung ke payudara ibu.

Nah, agar pemberian ASI tetap optimal pilihlah botol susu dengan bentuk yang paling mirip dengan payudara ibu. Di pasaran ada banyak pilihan botol susu dengan dot yang beraneka ragam. Botol susu yang bentuknya mirip payudara seperti dari Tommee Tippee Closer to Nature Bottles atau Philips Avent Natural Bottle.

Tak hanya dari segi bentuk yang mirip payudara, dari segi tekstur, pergerakan dot ketika diisap bayi, aliran air susu yang keluar, sehingga perasaan mirip menyusu langsung dari payudara.

Kelebihan dari botol Avent Natural 2.0 yaitu botol ini memiliki desain ulir spiral yang memudahkan pergerakan lidah si kecil, bentuk ujung dot yang menyerupai payudara dan materi dot dengan bahan silikon lembut membuat dot menjadi lebih awet digunakan serta memiliki tekstur yang halus seperti kulit.

Botol Natural 2.0 juga memiliki sistem anti kolik. Sistem untuk mengalirkan udara ke dalam botol bukan ke perut si kecil sehingga bayi dapat terhindar perut kembung. Selain itu botol susu Philips Avent memiliki leher botol yang lebar sehingga memudahkan perlekatan secara alami dan bentuk botol yang ergonomis yang membuat botol mudah digenggam dan nyaman digunakan dari segala arah.

Cara Memenuhi Kebutuhan Asupan Nutrisi Buah Hati dengan Optimal

Ayahbunda, Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan utama bayi sebelum berusia 6 bulan. Nutrisi yang dikandung dalam ASI dapat memenuhi kebutuhan bayi sebelum berusia 6 bulan. Pihak pemerintah memahami pentingnya pemberian ASI Eksklusif, dengan gencar pemerintah mengingatkan orang tua terutama ibu untuk memberikan ASI Eklusif untuk buah hatinya melalui tayangan layanan publik.

Buat ibu bekerja, rutinitas kerja  bukanlah alasan untuk tidak memberikan ASI selama minimal 6 bulan kepada bayi. Kini banyak tersedia produk untuk membantu ibu tetap memberikan ASI untuk si kecil. Salah satunya Philips AVENT Comfort Electric Breast Pump, alat pompa ASI dengan bantalan khusus yang dapat membantu ibu, khususnya para ibu yang bekerja untuk menghemat tenaga dan waktu saat memompa ASI di kantor atau saat berjauhan dari anak.

Selain itu ada juga AVENT Fast Bottle Warmer yang berfungsi untuk menghangatkan susu secara merata hanya dalam 3 menit. Untuk memastikan bahwa botol susu aman dan steril, Philips AVENT 3-in-1 Electric Steam Sterilizer merupakan alat untuk mensterilkan 5-6 botol susu sekaligus membunuh 99,9% kuman berbahaya.

Nah, baru setelah bayi menginjak usia 6 bulan, ibu dapat memberikan makanan pendamping ASI atau yang dikenal dengan istilah MPASI.

Setelah usia 6 bulan nutrisi ASI hanya memenuhi sekitar 60-70 persen kebutuhan bayi. Di usia 6 bulan bayi sudah siap menerima makanan pendamping ASI atau makanan lainnya. Dalam masa pemberian MPASI, anak mulai dikenalkan dengan makanan padat.

Apabila makanan pendamping ASI yang diberikan tidak sesuai maka pertumbuhannya bisa jadi  terhambat.

“Kualitas kesehatan manusia jangka pendek dan jangka panjang akan ditentukan oleh asupan nutrisi selama periode emas, 270 hari pralahir yaitu masa janin dan 720 hari pasca lahir (masa bayi dan dibawah dua tahun), “ ujar dokter spesialis anak sub-spesialisasi nutrisi dan penyakit metabolik Damayanti R Sjarif Sp.A(K) dalam acara talk show bertema “Solusi untuk Menjawab Kebutuhan Nutrisi Anak.” Acara ini bertujuan memberikan dukungan kepada para orangtua untuk memahami nutrisi apa yang dibutuhkan anak dalam masa tumbuh kembang atau periode emas.

Menurut Damayanti, orang tua jangan sampai mengabaikan masa krusial anak dengan memberikan nutrisi yang benar sesuai kebutuhan anak. Nah, dalam pemberian MPASI orang tua juga harus memperhatikan asupan energi, protein, lemak serta vitamin dan mineral, yang dibutuhkan oleh anak untuk tumbuh-kembang terutama otak di usia ini adalah zat gizi makro (karbohidrat,protein, lemak) dan mikro (vitamin dan mineral) yang lengkap, cukup dan seimbang. “Prinsip dari MPASI adalah mengenalkan makanan keluarga dengan tekstur yang disesuaikan kemampuan oromotornya. Jadi perkenalkan makanan Indonesia yang sehat sesuai dengan ketersediaan bahan makanan lokal,” ujar Damayanti.

Untuk membantu orang tua memberikan asupan nutrisi MPASI terdapat produk yang dapat mempermudah menyiapkannya. Philips AVENT 4-in-1 Healthy Baby Food Maker merupakan alat yang dapat menggabungkan fungsi kukus, blender, defrost dan reheat di dalam satu produk. Hal ini memudahkan para ibu untuk menyiapkan makanan pendamping ASI. Bahan-bahan makanan bayi yang segar dapat dikukus dengan tingkat kematangan yang merata tanpa harus dididihkan terlebih dahulu. Setelah selesai, angkat dan putar posisi wadah 180 derajat dari atas ke bawah untuk melumatkan bahan-bahan makanan yang dikukus agar menjadi lembut dan mudah dikonsumsi bayi. Philips AVENT 4-in-1 Healthy Baby Food Maker juga dapat digunakan untuk memasak makanan dewasa seperti membuat makanan yang berbentuk pure, bubur dan saus.

Nah, tidak ada alasan rutinitas kerja menghambat orang tua memberikan kebutuhan asupan nutrisi anak dengan optimal bukan?.

Kunci Latihan Yoga yang Aman

Yoga, merupakan kegiatan yang baik untuk relaksasi dan olah tubuh. Namun yoga juga mempunyai risiko terutama mereka yang mengalami nyeri otot. Rutin melakukan yoga juga dapat memperburuk luka. Nah, simak uraian tentang risiko dan kunci latihan yoga yang aman.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Bodywork and Movement Therapies menemukan bahwa yoga dapat menyebabkan nyeri muskuloskeletal dan memperburuk luka yang ada.

“Studi tersebut menemukan bahwa yoga menyebabkan rasa nyeri ekstremitas atas pada bahu, siku, pergelangan tangan, tangan. Hal ini disebabkan pose Downward Dog, gerakan yang memberikan beban pada tungkai atas,” ujar Evangelos Pappas, seorang profesor Fisioterapi muskuloskeletal di The University of Sydney di Australia.

Pernyataan ini bukanlah hal yang gegabah, berdasarkan penelitian dengan mengamati 354 orang yang rutin mengikuti yoga di 2 studio yoga New York, Amerika Serikat. Berdasarkan penelitian yang dilansir dari laman Healthline bahwa sekitar 95 persen peserta adalah wanita, rata-rata berusia 45 tahun.

Peneliti melakukan penelitian terhadap dampak yoga pada otot, tulang, dan nyeri sendi.Hasilnya, hampir 87 persen peserta mengalami rasa nyeri dalam setahun, dan lebih dari 10 persen mengatakan bahwa yoga menyebabkan nyeri di tangan, pergelangan tangan, bahu, atau siku mereka.

”Terdapat hubungan sebab akibat yang kompleks antara nyeri muskuloskeletal dan latihan yoga,” ujar Pappas.

Staffan Elgelid, seorang terapis yoga yang juga profesor di terapi fisik di Nazareth College di Rochester, N.Y., mengatakan bahwa yoga mempunyai risiko yang sama dengan olahraga lainnya.

Sebenarnya yoga adalah kegiatan olah tubuh yang aman. Menurut Elgelid siapa saja yang ingin mengikuti yoga karena alasan medis atau muskuloskeletal harus dimulai dengan kelas privat agar bisa belajar secara benar bagaimana memodifikasi latihan untuk kebutuhan mereka sendiri.

Senada dengan pernyataan American Academy of Orthopedic Surgeons (AAOS).
“Yoga dianggap aman jika dikerjakan dengan aman,”ujar Jennifer M. Weiss, ahli bedah ortopedi dan juru bicara AAOS.

Nah, Weiss memberikan tip berlatih yoga dengan aman yaitu “Jika mempunyai keterbatasan, jangan dipaksakan. Komunikasi dengan terapis yoga untuk memberikan modifikasi. Jika merasa tidak nyaman, berhenti. Pose yoga apapun bisa diganti dengan posisi istirahat yang nyaman sehingga memungkinkan Anda untuk berhenti dan bernafas, “ujar Weiss.

Yang terpenting menurut Rachel Krentzman, seorang terapis fisik dan instruktur yoga di San Diego, adalah menemukan instruktur yoga yang baik. Krentzman sendiri telah melakukan terapi fisik yoga selama lebih dari 15 tahun.

“Siswa harus memastikan bahwa pose yoga yang dilakukan sesuai dengan kondisi fisik mereka,” ujar Krentzman.

Mayo Clinic, menambahkan bahwa gerakan yoga aman jika berada di bawah bimbingan seorang instruktur terlatih.Jika dipraktekkan dengan benar, gerakan yoga dapat mengurangi stres, meningkatkan kebugaran, bahkan dapat menangani kondisi kronis.

“Kuncinya adalah menemukan seorang guru yang memiliki pengetahuan kerja yang baik tentang tubuh, manajemen dan pencegahan cedera, serta keselarasan yang tepat dalam postur yoga,” ujar Krentzman.

Batasan Konsumsi Gula yang Aman

Konsumsi makanan dan minuman dengan tambahan gula dapat meningkatkan risiko risiko terkena penyakit jantung, obesitas dan tekanan darah tinggi.

Ayah bunda, hati-hati dalam memberikan konsumsi makanan pada anak dan remaja. Kita dapat memakai patokan yang diberikan oleh The American Heart Association bahwa konsumsi gula pada anak dan remaja yaitu kurang dari 25 gram, atau 6 sendok teh, gula per hari. Hal ini hampir senada dengan anjuran yang diberikan oleh Kementrian Kesehatan Indonesia bahwa konsumsi gula yang dianjurkan yaitu Gula – 50 gram ( 4 sendok makan ) per hari.

Dalam jurnal Circulation, American Heart Association (AHA) merekomendasikan konsumsi gula anak usia 2 hingga 18 tahun kurang dari 6 sendok teh (25 gram) per hari, dan minuman manis tidak lebih dari delapan ons per minggu.

Umumnya penyebab utama obesitas yaitu minuman manis. Bayangkan, 20 ons minuman bersoda saja bisa mengandung lebih dari 16 sendok teh gula. Bahkan menurut AHA, anak di bawah usia 2 tahun tidak harus mengkonsumsi makanan atau minuman bergula.

Menurut Dr Frank Hu, Profesor Nutrisi dan Epidemiologi di Harvard Chan School of Public Health, “Rekomendasi AHA untuk membatasi asupan gula tambahan untuk anak-anak merupakan strategi penting untuk memperbaiki pola makan dan kesehatan anak secara keseluruhan. Sekolah, orang tua, profesional kesehatan, dan pembuat kebijakan harus bekerja sama membantu anak-anak meningkatkan kebiasaan makan dan minum sehat sejak usia dini. ”

Bahkan berdasarkan penelitian tersebut kadar gula berlebih pada anak-anak dapat menyebabkan gangguan kardiovaskular, tekanan darah, lipid, resistensi insulin dan diabetes, penyakit hati, dan obesitas.

Sebelumnya AHA merekomendasikan batas konsumsi gula 6-9 sendok teh per hari untuk wanita dan laki-laki. Nah,untuk mengatasi konsumsi gula berlebih sebaiknya banyak konsumsi buah-buahan dan sayuran, biji-bijian, protein, lemak, air putih serta makanan yang telah diproses tanpa gula dibandingkan minuman manis dan jus. Dalam hal ini Harvard menggunakan panduan Harvard Healthy Eating Plate dan Kid’s Healthy Eating Plate.

Tip Melahirkan Secara Normal

Bagi wanita yang baru mengalami kehamilan, seringkali merasa cemas mendekati hari H persalinan. Baik karena membayangkan rasa nyeri atau membayangkan proses persalinan. Walaupun semasa kehamilan sering melakukan konsultasi tentang proses persalinan.
Saat konsultasi umumnya dokter akan memberikan saran proses persalinan normal terlebih dahulu namun jika ada kendala maka direkomendasikan operasi cesar.
Untuk dapat menjalani persalinan normal, diperlukan komitmen yang kuat.  Komitmen untuk melahirkan secara alami adalah informasi. Cari informasi sebanyak mungkin tentang kehamilan dan persalinan.
Menurut laman Centers for Disease Control and Prevention, sekitar 61 persen wanita melahirkan secara normal. Nah, agar proses persalinan berjalan secara normal simak tip dari laman Fitpregnancy berikut:
1. Ikuti kelas prenatal
Carilah kelas prenatal yang dapat memberikan pengetahuan tentang bagaimana proses persalinan dan teknik menangani rasa nyeri, seperti teknik pernapasan, self-hypnosis dan relaksasi. Walaupun banyak rumah sakit yang menawarkan program ini di akhir pekan atau malam hari.Sebaiknya mencari kelas yang sesuai dan pro persalinan normal.
2. Pilihlah tempat atau rumah sakit yang pro melahirkan secara normal
Gali informasi tentang tempat atau rumah sakit yang pro melahirkan secara normal.
3. Cek asupan nutrisi dan berat badan
Bagi wanita yang memiliki berat badan stabil kenaikannya tidak berlebihan cenderung lebih sedikit risiko komplikasi.
4. Cari tes pemeriksaan laboratorium yang sedikit
Jika tidak memiliki masalah kesehatan tertentu, pilihlah tempat yang lebih sedikit pelaksanaan tes laboratorium dan sedikit intervensi medis selama kehamilan. Jika harus menjalani tes kesehatan yang banyak tanyakan seberapa besar manfaatnya. Jika banyak bermanfaat bagi kesehatan .
5. Banyak bergerak
Menjelang persalinan usahakan sebanyak mungkin bergerak. Berjalan-jalan, mandi, makan dan minum . Bila sudah merasakan adanya kontraksi secara konsisten kurang dari 5 menit dan semakin kuat cepat hubungi pihak rumah sakit atau paramedis yang akan membantu proses kelahiran. Namun jika ternyata waktu mlahirkan masih lama sebaiknya pulang terlebih dahulu.
6. Bermain air
Berendam di air, mandi merupakan salah satu sarana alami bagi ibu hamil untuk mengurangi rasa sakit dan membantu rileks. Luangkan waktu sebanyak mungkin di air.
7. Rileks
Cobalah banyak berlatih pernapasan, relaksasi, pijat, mendengarkan musik,yoga atau latihan apa pun yang membuat tubh dan pikiran rileks.